Musik, Televisi dan Sambal Cakalang

Reza F. Nurzaman 2016

Ilustrasi : Reza F. Nurzaman 2017

Teks Oleh : Bunga Ineza Bastaman

Sebenarnya saya agak kebingungan ⎯ dan menghabiskan sekitar 15 menit di depan layar komputer mencari tulisan pembuka yang pas ⎯ sampai ketika salah satu nomor karya Chopin secara acak dimainkan untuk mengiringi saya berpikir.

Lalu, saya ingat satu teman baik, yang juga salah satu sutradara favorit saya, mengatakan bahwa musik mempunyai kekuatan hebat, di mana kekuatan itu adalah mendorong sel otak kita untuk kembali mengingat sesuatu yang berada di masa lalu. Yang menarik, tidak hanya situasinya yang dapat teringat kembali, tapi juga bagaimana musik dapat dengan jelas membawa kita pada aroma, suasana dan perasaan yang kita rasakan di masa itu, seperti dibawa mesin waktu. Saya rasa hal ini sangat dekat dengan semua orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan musik dan juga menikmati waktu.

Mendengarkan musik Chopin ini membuat saya ingat pada seorang sahabat. Sahabat yang saya kenal sejak berseragam putih-merah, dengan perut buncit yang sudah tidak ada lagi semenjak ia meduduki bangku SMP. Hari itu, kami pulang sekolah, duduk di meja makan rumah saya, siap menyantap makan siang dengan tubuh bau matahari khas anak SMP sehabis nongkrong di pinggir lapangan sekolah. Di meja makan terdapat beberapa jenis masakan, tapi hari itu ada yang istimewa; Ayah saya yang baru saja pulang dari Manado, membawa oleh-oleh berupa sambal cakalang. Tanpa melihat menu yang lain, saya pun langsung menyiuk nasi dan beberapa sendok sambal cakalang, yang kemudian saya aduk dengan tangan. Sahabat saya ini hanya melihat saya, dan ikut menyantap jenis makanan yang sama, dengan cara makan yang sama. Begitu suapan pertama, ia diam untuk waktu yang cukup lama. Matanya berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang ia belum tahu apa. Lalu ia menanyakan pada saya, “Ini apa? Ini makanan apa?.” Saya kira ia tidak suka, saya kira sambal ini terlalu pedas untuk dia. “Cakalang”, saya bilang. Ia diam sejenak, lalu berkata, ”Kok rasanya sedih banget, ya, makan ini? Rasanya pernah kenal, kok, makanan ini. Jaman dulu banget. Tapi kapan?”.

Ternyata, nasi dan sambal cakalang itu membawanya pada masa kecilnya. Di mana ia sedang menikmati adukan nasi dan sambal cakalang sepulang sekolah, sambil menonton televisi. Tidak ada yang salah, memang, dengan situasi itu. Tapi, di dalam televisi itulah ia melihat ayahnya diberitakan baru saja meninggal dunia. Pada saat itulah, pertama kali ia mendengar kabar bahwa ayahnya pergi jauh, dan tidak mungkin kembali lagi. Sahabat kecil saya menangis ⎯ dengan nasi dan cakalang yang berantakan di tangannya, tidak bisa menyeka air matanya sendiri. Perasaan yang dulu pernah dilupakan ⎯ ternyata belum terlupakan, karena sepiring sambal cakalang.

Kembali kepada ‘musik yang memiliki kekuatan sebagai pengingat’, mungkin kekuatan itu tidak mutlak milik musik. Menarik sekali bahwa ternyata makanan memliki kekuatan yang sama besarnya, mungkin hanya tidak banyak yang menyadari. Begitu kuatnya memori kita berpegangan pada hal-hal biasa yang ada di sekitar kita. Tidak heran bila makanan, yang sangat dekat dengan ‘rasa’, menjadi pegangan yang kuat untuk kenangan. Terlebih dari perannya sebagai kebutuhan, mungkin makanan memang perlu kita nikmati sebaik-baiknya. Karena ‘rasa’ dari makanan tersebut juga bisa jadi pendorong sel otak yang membuat kita ingat nyamannya pulang ke rumah dan memakai pakaian tidur yang tipis, atau serunya jam istirahat di sekolah bersama teman-teman, atau deg-degannya kencan pertama, atau sesaknya patah hati ketika kehilangan.

Apapun itu, sepertinya manusia terlalu jauh memikirkan bagaimana menciptakan mesin waktu, yang padahal, mungkin, mesin waktu itu sudah ada sejak lama; ada di setiap dapur yang berantakan.

Iklan

Manisnya Es Krim Karya Luigie dan Vicenzo Ragusa

 

Foto dan Teks : Reza F. Nurzaman

Ragusa adalah sebuah kota kuno di selatan pulau Sisilia, Italia. Dihuni oleh 75 ribu warganya dan terletak di sebuah lembah antara bukit Cava San Leonardo dan Cava Santa Domenica. Di kota inilah Luigie Ragusa dan Vicenzo Ragusa berasal. Dua orang warga Negara Italia, yang pergi merantau ke Indonesia pada tahun 1930 untuk kursus menjahit. Setelah selesai kursus menjahit, mereka pergi ke Bandung dan dalam perjalanan mereka untuk bertemu seorang wanita Inggris yang memiliki peternakan sapi. Melihat banyaknya produksi susu di peternakan tersebut Ragusa bersaudara berniat mengolah produk susu tersebut menjadi Es krim yang akhirnya mereka membuka kedai pertamanya pada tahun 1931 di Jalan Raya Pos, Bandung.

Reza F. Nurzaman 2016

Seiring perkembangan Ragusa semakin diminati oleh warga Bandung, dan mereka mulai berpikir untuk melakukan ekspansi bisnis ke Jakarta. Pasar Gambir (sekarang pekan raya Jakarta) 1932 adalah debut pertama Es Krim Ragusa di Jakarta sambutan yang luar biasa dari warga Jakarta membuat mereka terus membuka booth di sini sampai tahun 1946. Pada tahun 1945 kondisi bisnis kedai es krim ini tidak terlalu baik, ini semua bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia, yang membuat banyak dari warga asing (kebanyakan pelanggan setia Ragusa) dipaksa untuk pulang ke Negara asalnya. Sampai akhirnya mereka harus menutup kedai nya di Bandung. Tetapi itu tidak membuat kendur semangat Ragusa bersaudara untuk membuat es krim mereka tetap lestari. Pada tahun 1947 mereka membuka kedai permanen pertamanya di Jl.Veteran 10, Jakarta dan bertahan hingga kini.

Reza F. Nurzaman 2016

Ragusa kini (2016) tak ubahnya sebuah kedai tua yang selalu dijejali pengunjung. Di akhir pekan, antrian penikmat es krim mengular dari meja kasir sampai ke depan pintu kedai. Sulit rasanya untuk duduk sejenak di bangku rotan sembari menikmati satu porsi spaghetti es krim. Penuh, sesak, itu yang saya rasa.  Tiga tahun lalu (2013) Ragusa tidak sepenuh ini, saya masih bisa duduk santai berbincang hangat dengan teman saya. Biasanya kami diiringi oleh seorang musisi yang mengenakan sebuah topi apel dan memainkan tembang – tembang lawas.

Waktu itu saya mencicipi satu porsi spaghetti es krim, rekan saya memesan satu porsi Es krim Cassata Siciliana, dua porsi es krim dengan rasa susu yang dominan namun memiliki perbedaan yang mendasar.

Spaghetti Es Krim, adalah es krim vanilla yang dipress menggunakan alat penghancur kentang, lalu ditambahkan saus coklat, sukade, dan taburan kacang tanah. Satu porsi es krim jenis ini bisa anda nikmati dengan harga Rp. 35.000. Soal rasa dan tekstur, Ragusa memiliki ciri khas-nya sendiri. Tekstur Es krim Ragusa memiliki butiran-butiran es kecil yang biasanya tidak kita temukan di es krim asal Italia seperti gelato. Hal ini mengganjal pikiran saya, Ragusa yang mengklaim es Italia tidak memiliki karakteristik Es krim Italia.

Biasanya gelato dibuat menggunakan gelatin, agar-agar yang terbuat dari ekstrak tulang hewan. Gelatin juga yang membuat tekstur gelato menjadi lembut. Entah apakah Ragusa bersaudara kesulitan menemukan gelatin di Indonesia? Saya tidak tahu pasti jawaban-nya toh saya juga belum pernah mencicipi es krim Ragusa pada masa mereka berdagang di Pasar Gambir di tahun 1932. Ah, andai saya memiliki mesin waktu saya akan kembali ke sana. Mencicipi satu porsi es krim Italia pada masa ke-emas-an-nya.

Review : Nasi Ayam Bu Oki dan Keragaman Bali

            Kini, saya berada di atas selat Bali, masih sekitar 100 mil dari bandara Ngurah Rai tempat saya mengakhiri penerbangan kali ini. Cuaca selat Bali kali ini cerah, tampak dari jendela pesawat laut biru dan gunung Agung yang menjulang gagah menghiasi lanskap pulau Bali. Kebetulan, saya belum sempat makan siang, perut saya kosong, dan lidah saya berimajinasi tentang rasa dari makanan tradisional yang akan saya nikmati setibanya saya di sana. Dan Kopi Bali, yang namanya sudah terkenal ke seluruh dunia siap menyambut saya. Tiba-tiba awak pesawat pun memberikan pemberitahuan untuk persiapan pendaratan, lalu saya menutup catatan kecil saya dan mengencangkan sabuk pengaman. Di depan lobi terminal kedatangan, saya berdiri menunggu jemputan taksi online yang akan mengantar saya ke daerah Jimbaran. Nasi Ayam Bu Oki adalah makanan pertama yang akan saya nikmati hari ini.

Nasi Ayam Bu Oki

 

                Saya berhenti di depan sebuah warung makan sederhana, yang namanya sudah dikenal. Ada yang bilang, “Jangan dulu pergi dari pulau Bali, jika belum mencicipi nasi ayam bu Oki”. Setidaknya seperti itu perkataan teman-teman saya ketika mereka merekomendasikan tempat ini, untuk saya liput. Di etalase warung ini, tampak berjejer lauk pauk dan urap khas Bali. Ada sekitar tiga jenis ayam, telur dan sate pentul tampak menggoda. Di warung Nasi Ayam Bu Oki, tampak banyak para pelancong asyik menikmati makanan ini udara panas pulau dewata tidak menghilangkan semangat mereka untuk mencoba makanan satu ini, padahal warung ini sama sekali tidak memiliki pendingin udara. Saya sepertinya sudah cukup kelelahan untuk menikmati nasi ayam ini di warung ini, dan akhirnya memutuskan untuk menyantap hidangan ini di penginapan. “Nasi Ayam komplit-nya satu ya, dibungkus aja” kemudian saya membayar Rp.20.000 untuk satu bungkus nasi ayam komplit.

                Di penginapan, setelah selesai merapikan barang bawaan, saya akhirnya mencicipi nasi bungkus ini. Bentuk bungkus nasi ini juga unik, berbentuk segitiga dan di dalamnya berisi nasi,urap, ayam goreng, ayam betutu, sate pentul, ayam suwir, sambal matah, dan taburan kacang goreng. Sepertinya keputusan untuk membawa pulang nasi ayam ini sudah cukup tepat, karena menurut saya apapun jenis hidangan nasi campur memiliki cita rasa yang lebih tinggi jika dibungkus. Nasi Padang contohnya, rasanya akan lebih mempesona jika kita membelinya dengan dibungkus. Mungkin karena campuran bumbu dan lauk-pauk menyatu juga meresap sempurna bersama nasi panas.

                Kesan pertama saya setelah mencicipi Nasi Ayam Bu Oki adalah rasa dan aroma yang kaya dan beragam. Mencicipi Nasi Ayam Bu Oki benar-benar menyadarkan saya, kalau saat ini saya memang berada di pulau dewata. Aroma rempah-rempah yang kaya, rasa sambal matah, kenyalnya sate pentul, gurihnya ayam betutu dan meresapnya bumbu-bumbu ke dalam nasi tersebut benar-benar menggambarkan budaya dan keragaman pulau Bali.

Bali, kekayaan dan keragaman budaya mu, terlukis jelas dalam satu bungkus Nasi Ayam Bu Oki.

“Geef Mij Maar Nasi Goreng” Buah Rindu Wieteke Van Dort

“Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij”

 

Seperti itu kira-kira lirik lagu yang saya dengar sore ini, di dalam sebuah kedai yang bernuansa Indonesia tempo dulu. Lirik lagu tersebut hasil ciptaan Wieteke Van Dort seorang warga Belanda yang lahir di Surabaya. Wieteke atau biasa juga dipanggil Tante Lien, menulis lirik lagu tersebut ketika harus pulang ke Belanda setelah terjadinya konflik di Papua Barat pada tahun 1957.

Ke pulangan Tante Lien ke Belanda diikuti oleh rasa rindu-nya dengan masakan Indonesia. Iklim negri Belanda yang dingin dan masakan-nya yang kurang cocok dengan lidahnya,  menginspirasinya untuk menulis lagu ini. “Geef mij maar Nasi Goreng” atau “Beri saya Nasi Goreng” jika kita artikan dalam bahasa Indonesia.

Dalam lirik lagu tersebut, Tante Lien juga menyebutkan kerinduan akan berbagai macam masakan Indonesia lain-nya, seperti

sambal, krupuk, lontong, sate babi, terasi, serundeng, ikan bandeng, tahu petis, kue lapis, onde-onde, singkong, bakpau dan ketan. Tante Lien juga merindukan cita rasa pedas, yang sangat khas Indonesia.

Siapa yang tidak rindu masakan Indonesia? Seorang food blogger asal Belanda(Pauline) Pernah berbala surel dengan saya, dan dalam perbincangan kami ia mengaku sangat terpesona dengan kekayaan kuliner Indonesia, bahkan blog nya berisi tentang resep-resep masakan Indonesia, tentunya dengan sedikit modifikasi mengingat sulit mendapatkan bahan-bahan khas Indonesia di benua biru. (Baca : Pauline de Senerpont Domis: Masakan Indonesia Adalah Masakan Terbaik)

Sepertinya bukan cuma Tante Lien yang menyukai Nasi Goreng. Presiden Amerika Serikat (Barrack Obama) juga sangat menyukai hidangan sepinggan ini. Saya kira, Nasi Goreng mengingatkan tentang kenangan masa kecil beliau di Indonesia.

Makanan, memang seperti musik, ia selalu bisa membangkitkan kenangan.

“Beri saja aku nasi goreng, dan telur dadar, sambal juga kerupuk dan satu gelas bir yang enak” – Wieteke van Dort.

“Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd

Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht

Maar ‘t ergste was ‘t eten.

Nog erger dan op reis

Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

 

Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis

Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis

Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao

Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou

 

Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst

Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst

Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep

Maar ‘t lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep”

Bu, Masak Apa Lebaran Tahun Ini?

 

Reza F. Nurzaman 2016

Photo : Suryo Brahmantyo

Sore itu dalam perjalanan pulang. Penat di tubuh ini sudah tidak dapat lagi saya gambarkan dengan kata-kata. Bu, masak apa lebaran tahun ini? Saya melihat seorang gadis kecil berumur sekitar lima tahun berlari di atas peron stasiun. Ibunya tampak kelelahan mengimbangi energi gadis tersebut. Dua kardus mie instan yang membungkus rapih barang bawaan-nya menghiasi sudut peron. Ayahnya sigap dengan tas ransel warna hitam di punggungnya, ia berdiri melihat ke arah datangnya kereta.

“Ibu, jam berapa kereta kita tiba?”

gadis itu bertanya sembari memeluk kaki ibunya.

 “Sebentar lagi, Dek. Sabar ya?”

 Saya menghampiri ibu itu dan bertanya.

 “Pulang ke mana bu?”

“Oh, ini saya pulang ke Klaten, dek”

“Wah, naik kereta ke arah Yogya ya bu, Kereta apa? Bengawan?”

“Iya dek, naik Bengawan. Adek sendiri mau kemana ya?”

“Ah, saya hanya pulang kerja bu, ke rumah di daerah Kota”

Kami pun berbincang tentang segala hal dari perjalanan jauh di kereta api, sampai makanan khas kota Klaten. Sampai akhirnya kereta saya  tiba juga, saya pamit dan melanjutkan perjalanan saya pulang ke rumah. Saya duduk, mengarah ke jendela, dekat dengan pintu kereta, tempat orang lalu-lalang. Dalam pikiran saya satu, saya ingin merasakan indahnya pulang kampung.

Ya, saya memang lahir dan besar di Jakarta. Ayah dan Ibu saya juga tinggal dan lahir di sini. Setiap hari raya, kami hanya berkeliling kampung, berjabat tangan dengan saudara-saudara kami yang tinggal tidak terlalu jauh dari rumah. Saya juga selalu suka, ketika harus mampir ke rumah tante saya. Kebetulan setiap Idul Fitri, tante saya terbiasa menyajikan hidangan favorit keluarga kami, “Cilok” campuran bola-bola sagu dan terigu yang direbus dan disajikan dengan saus kacang.

Bukan hanya tante saya, Ibu dan kakak sepupu saya pun sibuk bukan kepalang menyiapkan hidangan Idul Fitri. Satu hari sebelumnya mereka pergi ke pasar, dan pulang membawa dua kantong daging sapi beserta beberapa ikat janur yang berbentuk ketupat. Satu lagi yang sering saya tunggu, semur daging Ibu saya, bagi kami yang terbiasa makan tahu dan tempe, semur daging adalah makanan istimewa, dan hanya disajikan saat hari raya.

Mungkin setiap Ibu, Bunda, Mamah, Umi, Mami, atau apapun sebutannya memiliki keterampilan ajaib dalam mengolah makanan. Teman saya pernah bercerita, tentang apa yang paling ia rindukan di hari raya. Selain berkumpul bersama keluarga, ia merindukan Opor Ayam masakan Ibunya. “Ada yang beda” Begitu katanya. Ada juga sahabat saya, ia rela menempuh ratusan kilometer bersama ribuan pemudik lainnya. Hanya untuk mencicipi pepes tahu dan sop buntut hasil tangan Bunda-nya. Tidak masuk di akal, apakah sedemikian besar, pengaruh masakan Ibu terhadap anak-anaknya?

Sewaktu saya kecil, saya selalu suka ketika ibu saya memasak sayur sup dengan tambahan pasta macaroni di dalamnya. Unik, mungkin karena di rumah jarang memasak sayur dengan campuran pasta makaroni. Ah begitu banyak makanan yang saya rindukan dari tangan mu Ibu. Masak apa lebaran tahun ini?

Saya jadi ingat, dengan salah satu potongan adegan di film “Rattatouille” ketika seorang kritikus makanan mencicipi “Rattatouille” buatan seekor tikus. Kritikus makanan itu, kembali teringat akan kenangan kecil-nya tentang makanan buatan Ibu-nya. Dan akhirnya kita semua setuju, tidak ada makanan yang lebih enak dibanding makanan yang dibuat oleh seorang Ibu.

Pesan saya, untuk teman-teman yang sedang dalam perjalanan mudik. Hati-hati di jalan, dan selamat berkumpul bersama keluarga dan menikmati makanan terenak. Dan untuk Ibu saya, “Masak apa lebaran tahun ini?”

Bakso Akiaw 99 : “Kaldu Membawa Rindu”

Reza F. Nurzaman 2016

Reza F. Nurzaman 2016

 

Bakso Akiaw 99 – Baru saja saya sampai di depan stasiun kereta ini, sambil berlari kecil menghindari hujan gerimis masuk ke dalam bangunan stasiun yang berada tidak jauh dari Masjid Cut Meutia, Menteng. Saya akan menuju ke Stasiun Kota, untuk bertemu dengan salah satu kawan saya. Setelah sampai di peron kereta, saya mengambil beberapa gambar, yang menurut saya menarik. Kemudian saya menunggu kereta yang akan membawa saya ke daerah Kota.

Akhirnya saya berjumpa dengan kawan saya, ia mengajak saya untuk mencicipi Bakso Akiaw di daerah Mangga Besar. Perjalanan kami di isi dengan beberapa cerita tentang apa saja termasuk tentang mantan, sampai akhirnya kami tiba di tujuan.

Bakso Akiaw 99 posisinya tidak jauh dari pertigaan Mangga Besar, untuk anda yang naik kendaraan umum. Anda bisa turun di dekat halte Olimo dan berjalan kaki sedikit ke arah THR Lokasari. Posisi-nya ada di sebelah kanan jalan, Anda bisa melihatnya papan nama-nya dengan mudah. Anda pun tidak akan kesulitan menemukan tempat ini, karena ramai-nya pelanggan tempat ini. Sebetulnya ini kali pertama saya ke sini, bahkan berwisata gastronomi di daerah ini. Padahal di daerah Mangga Besar tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Bakso Akiaw 99

Reza F. Nurzaman 2016

Di Bakso Akiaw 99 kita bisa merasakan atmosfer kedai makan sederhana, dengan beragam menu bakso, sup sapi, kwetiaw dan bihun. Kami mencicipi satu porsi bihun dan sup sapi, saya ikut saja, sesuai pesanan dan rekomendasi teman saya itu.  Sambil menunggu saya pun berbincang, dengan kawan saya itu, dari mana Ia tahu lokasi tempat ini? “ Ini tempat makan favorit gue ,bro”

Wow, pasti tempat makan ini punya arti istimewa untuk dia, apa lagi makanan, biasa-nya membangkit-kan memori sama seperti musik. Saya melihat sesuatu yang cukup familiar. Satu buah botol sarsaparilla cap Badak. Ternyata minuman dari pematang siantar yang semakin langka itu, bisa kita temui di sini juga.

Kemudian dua porsi sup sapi dan bihun datang ke meja kami, aroma gurih-nya lembut dan kuah-nya jernih. Sepertinya juru masak sup sapi ini sangat memahami apa itu kaldu yang baik. Biasanya sup sapi ini dimakan bersama tambahan daun bawang dan sambal. Saya mencicipi-nya tanpa tambahan apapun, hanya ingin mengetahui seberapa baik kaldu yang disajikan di sini.

06230079.jpg

Benar saja, rasa gurih kaldu-nya lembut, tidak terlalu “heavy” dan cocok dengan karakter daging sapi has dalam yang di-iris tipis dan lembut ketika masuk ke mulut. Untuk bihun-nya dimasak dengan baik, masih terasa kenyal dan memiliki tekstur agak kasar. Campuran bumbu-nya pun cocok dengan karakter bihun ini. Saya kira, ini sup sapi terbaik yang bisa anda dapatkan di daerah Mangga Besar.

Bicara tentang Bakso Akiaw 99, saya mencoba bertanya ke kawan saya tersebut. “ Terus, lu makan di sini, ingat sesuatu dong?”

“Ah, Nggak biasa aja!”

Mulutnya pun terus mengunyah daging sapi dan bihun.

NB :Untuk satu porsi sup sapi dan bihun, dijual seharga Rp.45.000

Lokasi :

Jalan Mangga Besar Raya No. 2B, 

Tamansari, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia

 

Inilah Resep Nasi Goreng Malas.

resep nasi goreng malas


“Resep nasi goreng ini bisa dijadikan panduan anda saat anda malas untuk memasak di dapur. Resep nasi goreng rumahan ini akan menjadi resep andalan anda”

Untuk seseorang yang setiap harinya pergi pulang kantor, seharian bermanja-manja di rumah adalah sebuah kemewahan. Apa yang lebih indah dari rambut yang kucel, pagi yang hangat dan siaran televisi pagi. Kehidupan terasa lebih lambat, jauh dari cepatnya ritme kehidupan ibukota. Namun perut tidak pernah berhenti untuk bermanja, ia dengan ritual-nya sendiri tak pernah libur untuk minta di-isi. Pergi ke dapur di hari libur berat rasanya, membeli sarapan pagi di luar sama saja. Saya jadi ingat sebuah hidangan sarapan pagi, buatan saya dan ibu saya. Biasanya kami memasak nasi goreng sederhana, Nasi goreng malas, begitu saya menyebutnya. Ini semua karena cara memasak dan bahan-bahan-nya yang sederhana menjadikan Nasi goreng ini hidangan yang sangat mudah dan simpel dibuat, cocok untuk anda-anda yang malas pergi ke dapur.

Awalnya saya menyiapkan bahan-bahan yang akan saya olah. Bawang merah dan bawang putih, saya kupas dan iris tipis. Begitu juga dengan cabai rawit merah saya iris juga, jumlahnya disesuaikan dengan banyak-nya nasi yang akan diolah. Nasi yang akan digoreng pun harus dalam keadaan suhu ruang, hal ini akan mempengaruhi tekstur nasi ketika digoreng. Jangan lupa telur dua butir atau tiga atau empat jika anda suka, dalam membuat nasi goreng ini tidak ada aturan baku, intuisi adalah hal yang utama.

Awalnya saya memanaskan wajan dengan minyak goreng, oh iya, kalau ada minyak goreng bekas menggoreng ayam atau ikan, gunakan saja minyak itu. Ia akan menambah rasa dan aroma dari nasi goreng tersebut. Setelah minyak panas, masukan telur dan diamkan sesaat sampai hampir matang. Kemudian diaduk-aduk seperti membuat scramble egg. Masukan bawang merah dan tumis hingga aroma bawang keluar dari tumisan. Masukan bawang putih dan cabai rawit tumis lagi hingga aroma-nya keluar, lalu masukan nasi putih dan aduk hingga rata. Setelah tercampur rata, masukan garam dan lada dan jangan lupa dicicipi. Setelah dirasa cukup gurih dan asin, bisa langsung disajikan selagi hangat nasi goreng ini cocok untuk sarapan dengan teman makan ayam goreng dan kerupuk udang.